A trip for KL Converge! 2015 #Day 3

Hari terakhir acara KLConverge! 2015. Sesuai perkiraan, pengunjung sepi karena bertepatan dengan kegiatan Bersih 4.0, aksi damai turun ke jalan menuntut kedaan yang lebih baik di Malaysia dengan simbol kaos serba kuning.

Ini orang semua?
Ini orang semua?
Hayuk dek hayuk ;D
Hayuk dek hayuk ;D

Karena sepi pengunjung, kita lebih banyak menyibukkan diri membuat dokumentasi. Para exhibitor dari negara lain juga keliatan bosan dan menyibukkan diri dengan cara mereka masing-masing. Ada yang selfie 20 foto per menit, ada yang stalkingin mantan, ada juga yang ngupil di pojokan. Seperti aksi bersih 4.0, semua melakukannya dengan damai. Keadaan makin lengang skitar jam 4 sore, stand sudah banyak tutup dan peserta kembali ke hotel.

Rekan Sembilan Matahari lagi gaya
Rekan Sembilan Matahari lagi gaya. Dikira mereka keren? iya sih keren juga ya
Seluruh Exhibitor Indonesia
Seluruh Exhibitor Indonesia
KLCC hasil jepretan Mas Budi
KLCC hasil jepretan Mas Budi yang sebenarnya biasa aja (Semoga dia nggak baca)

Berburu Coklat Murah di Chow Kit

Malam minggu sekaligus malam terakhir di KL. Malam ini juga malam spesial karena nggak perlu jawab pertanyaan dari teman-teman “Malam mingguan sama siapa bro?”. Saya, Mbak Andin dan Mbak Adisti manfaatin sisa waktu buat keliling. Sayangnya tim 9matahari harus meeting dan Mas Budi kecapean jadi mereka nggak bisa ikut. Tujuan kita adalah Chow Kit. Menurut informasi dari blog ini, ada satu toko yang recomended untuk beli coklat murah.

Peta Transportasi Umum myRapid
Peta Rute myRapid

Perjalanan kita lumayan panjang: Hotel – Suria KLCC – KL Central – Chow Kit

Dari Hotel  ke Suria KLCC ditempuh dengan jalan kaki. Kita sempat singgah ke toko Permen dan Coklat di sepanjang perjalanan. Dari Suria kita naik LRT ke KL Central dan lanjut dengan monorail ke Chow Kit. Stasiun monorail berada di lantai 2 (CMIIW).

Candylicious di KL Central
Candylicious di KL Central
Walaupun “tak bole ambek gambar”, tetep..
Walaupun “tak bole ambek gambar”, tetep..
Cewek mana yang nggak seneng dikasi ginian
Cewek mana yang nggak seneng dikasi ginian
Coklat Godiva yang terkenal
Apalagi ini, Coklat Godiva yang super mahal

 

P_20150829_151715-e1441621721110-449x304
Kalo yang ini cuma bungkusan doank, murah!

 

Oke, cukup soal coklat yang bikin lapar mata, kita balik ke perjalanan. Ternyata, kendaraan umum di luar daerah wisata cukup ramai . Saat kita naik monorail ke Chow Kit, bisa dibilang kita hampir berdesakan dengan penumpang lain. Memang sih, nggak seramai KRL di Jakarta. Kita juga ketemu beberapa rombongan Bersih 4.0 berbaju kuning yang mulai lelah dan bau ketek.

Suasana dalam monorail
Suasana dalam monorail
Halte Chow Kit
Halte Chow Kit

Dari sini, sesuai dengan instruksi dari blog tadi, kita berjalan mencari jalan Lengkok Raja Laut. Hampir setengan jam dicari, bertanya kesana kemari dan sedihnya kita gak ketemu toko W.L.H C&C. Kita putuskan untuk pulang. Di perjalanan, kita ketemu satu toko yang khusus menjual jajanan dari Iran: Shirin Asal.

Shirin Asal, depan gedung PAS, Jl. Bengkok Raja Laut
Shirin Asal, depan gedung PAS, Jl. Bengkok Raja Laut

P_20150829_202217_NT-449x304

P_20150829_202227_NT-449x304

Postingan ini saya tulis setelah kembali ke Bandung. Tiap lihat gambar ini saya nyesel karena nggak beli coklat sebanyak-banyaknya. Coklat disini benar-benar murah dan rasanya enak banget. Seantero jagad raya pasti setuju dengan saya. Setelah berburu coklat, kita makan di KCF yang berada 300m dari Shirin Asal. KFC cukup unik karena menyediakan nasi lemak.

KFC dengan nasi lemak
Cie makanannya buat berdua. ini malam minggu lho!
‘Nggak sengaja’ jajan sebanyak ini
‘Nggak sengaja’ jajan sebanyak ini

Kita pulang sekitar jam 10 dengan monorail. Setelah lewati stasiun pertama, Mbak Andini melihat tulisan Pavilion. “Jangan-jangan itu Pavilion yang dekat hotel” pikirnya. Kita coba turun di stasiun berikutnya, Dan Wangi. Ternyata benar, perjalanan pergi yang jauh dan sedikit malah itu harusnya tidak perlu andai kita tau Chow Kit sedekat ini! Inilah hikmah dari sok tau dan kurang banyak nanya.

Keluar stasiun, kita jalan ke arah hotel melewati Sky Cross dekat Pavilion. Pertigaan depan Pavilion malam itu sangat ramai, mirip keramain di Shibuya Jepang (biar keliatan pernah kesana). Tempat ini dipenuhi wisatawan yang kebanyakan dari arab. Sepanjang jalan kaki saya negur mereka dengan kata “bahlul ente” sambil senyum ramah tapi nggak ada yang balas senyum balik. Kok mereka nggak ramah ya?

Air mancur depan Pavilion
Air mancur depan Pavilion

Di dekat trotoar saya melihat banyak orang yang berhenti melihat ke salah satu cafe yang menyajikan ‘arabic live dance’. Anehnya, sang penari adalah pria dengan pakain dan gerakan seperti wanita, nyaingin dewi persik mas? Baru mulai merekam tariannya, tiba-tiba si penari marah dan menunjuk ke arah saya. Seluruh mata tertuju kesini. Di detik itu saya merasa ganteng seketika karena 3 cewek arab berhidung mancung di samping saya senyum-senyum, iya karena saya disorak seluruh penonton.

Demikian cerita 3 hari di KL yang nggak penting ini, tunggu cerita Conference IEEE di Bali bulan depan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s